Bergesernya Konsep Emansipasi dan Isu Gender
Tulisan yang saya buat ini masih dalam rangka memperingati hari Kartini 21 April kemarin. Sebagai seorang perempuan, hari peringatan seperti ini penting dan sebaiknya dimaknai lebih dalam. Dulu, saat masih bersekolah saya merasa biasa-biasa saja saat memperingati Kartini's Day. Namun semenjak kuliah saya mulai memikirkan betapa beruntungnya kaum perempuan saat ini bisa bersekolah dan menempuh pendidikan tinggi. Dalam hati saya merasa bangga dan mengapresiasi perjuangan beliau dalam memperjuangkan hak pendidikan kaum kami.
Semakin kesini, konsep emansipasi mulai bergeser pemahamannya. Saya rasa idealisme feminis dari barat cukup besar mempengaruhi. Feminisme sendiri memiliki cerita panjang dan berbagai bentuk, namun satu yang saya tangkap adalah isu kesetaraan gender yang banyak diangkat oleh masyarakat. Kesetaraan gender yang dimaksudkan oleh kaum barat adalah bagaimana perempuan bisa setara posisi atau pemenuhan hak nya dengan laki-laki.
Hal ini yang saya kritisi, dan mungkin orang yang juga sependapat dengan saya, bahwa paham tersebut tidak serta merta bisa diterapkan dalam Indonesia. Memang sejak dari dulu perempuan dianggap lebih inferior dari laki-laki, namun bukan berarti semua yang dilakukan laki-laki kita harus bisa menyamakannya. Saya rasa lebih tepat jika istilahnya adalah keadilan gender. Keadilan gender dalam arti bagaimana perempuan juga diberi kesempatan yang sama dengan laki-laki, untuk memperjuangkan hak nya, untuk turut dalam pembangunan nasional. Misalnya untuk bekerja, berpolitik, atau menjadi pemimpin dalam suatu organisasi atau sosial masyarakat. Walaupun hal kepemimpinan ini juga menjadi pro kontra di negeri ini. Indonesia adalah negara dengan mayoritas penduduk muslim di mana mempunyai aturan tertentu dalam kitab suci termasuk masalah hak dan kewajiban laki-laki dan perempuan.
Dalam ajaran agama Islam, yang berhak menjadi pemimpin adalah laki-laki. Ajaran yang dianut ini mendorong adanya budaya patriarki yang artinya dimana laki-laki lebih diutamakan dalam struktur sosial. Budaya ini menuai kontroversi dari kaum perempuan yang kurang menerima bahwa laki-laki adalah yang harus diutamakan. Saya bisa menerima hal itu karena saya menganut ajaran tersebut. Namun, saya mengarah kepada bagaimana isu marjinalisasi perempuan.
Saya belajar mata kuliah tentang gender dan media yang membuka mata saya. Media dalam merepresentasikan perempuan saya rasa cukup ekstrim. Bisa dianalisa, bagaimana perempuan dieksploitasi tubuhnya dalam majalah lelaki. Topik yang dibahas tidak jauh dari seks. Padahal sebagaian besar majalah perempuan di Indonesia tidak menampilkan lelaki dengan cara seperti itu. Kasus ketidakadilan gender yang lain adalah kekerasan fisik dan pelecehan seksual. Kasus KDRT yang kebanyakan dilakukan oleh suami terhadap istri. Pelecehan seksual juga sangat memprihatinkan dengan adanya perkosaan massal di kendaraan umum dan pencabulan anak di bawah umur. Lalu di mana keadilan yang kaum perempuan dapat? Perempuan selalu menjadi objek seksual oleh lelaki. Perempuan masih subordinat di bawah laki-laki, dianggap rendah, lemah. Kasus yang banyak terjadi menunjukkan bagaimana moralitas yang ada masih rendah. Bagaimana pemerintah melalui kebijakannya dalam melindungi perempuan? Dan untuk lelaki yang belum bisa menghargai perempuan, please show us your respect.

Bagus cha postingannya.
BalasHapusSaran, lebih ditata lagi alinea per paragrafnya.
Capek lha kalo baca ga ada paragrafnya gini, hehe...
Keep writing ^^9
Thanks el, akan aku perbaiki :)
BalasHapus