Paradise of Roses

Liburan semester ganjil ini aku berkesempatan jalan-jalan lokal ke kota sebelah, Batu. Awalnya bingung menentukan destinasi sampai akhirnya browsing internet. Di sana aku menemukan informasi beragam desa wisata yang ada di Batu. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah wisata petik mawar yang ada di desa Gunung Sari. Kebetulan aku suka sekali sama bunga mawar. Merah. Berlipat mahkota. Harum. Khas. Kemudian berpikir kalau sepertinya akan seru kalau wisata kesana. Maka berangkatlah aku tanggal 17 Januari kemarin. Dengan mengendarai motor bersama teman, aku berangkat pagi menjelang siang. Bermodal informasi nama daerah dan patokan seadanya kami nekat mencari sendiri letaknya. Cukup membingungkan karena belum ada petunjuk yang tersebar di jalan, alhasil kami muter-muter hampir satu jam. Bertanya ke penduduk sekitar juga kurang memberikan informasi yang jelas, mungkin memang daerahnya cukup pelosok. Sesampainya di tujuan kami disambut dengan ramah oleh perwakilan pengelola sekaligus marketing dari wisata petik mawar, namanya Mas Dedik. Keadaan saat itu tidak begitu ramai memang karena mungkin belum banyak yang tahu.


Tugu Bunga Mawar
Kebun Mawar

Dari penjelasan pengelola, memang wisata ini belum lama berdiri, masih berjalan sekitar satu tahun. Namun demikian, kebun ini memiliki prestasi yang membanggakan sebagai kebun mawar terbesar di Indonesia yang mengalahkan Cipanas. Wisata ini lebih terkenal di luar kota karena banyaknya kunjungan rombongan dari luar kota. Wisata ini dalam keadaan pembangunan dalam arti masih proses pengembangan bertahap. Pembangungan infrastruktur jalan, fasilitas, dan pengolahan lahan kebun mawar. Kebun mawar ini terbentang sekitar kurang lebih 60 hektar. Sayangnya, saat kami kesana belum semua bunga mekar, hanya beberapa tanaman yang siap panen. Namun mataku cukup dimanjakan dengan merahnya yang menggoda, lembutnya warna putih tissue, Shocking pink atau yang biasa disebut marble, dan kombinasi warna yang dinamai Cherry brendy. Dan banyak lagi varietas mawar yang dikembangkan dalam areal pertanian ini, namun harap maklum aku tidak hafal semua nama latinnya :)


Red

Cherry Brendy

Marble

Sayangnya saat itu kami tidak bisa jalan-jalan ke dalam area pertanian karena kondisi tanah yang tidak memungkinkan. Jadilah kami hanya melihat sekitar dan dari jauh saja. Namun memuaskan sudah dapat momen pengabadian dengan mawar-mawar cantik itu. Untuk petik mawar, harga per tangkainya hanya dua ribu rupiah saja. Kita akan diajari cara memotong mawar yang benar dengan gunting tanaman. Setelah itu petugas akan membersihkan tangkai tersebut untuk kemudian dibungkus dan siap dibawa pulang. Agar mawar tidak mudah layu di pajang dalam vas, ada trik sederhana untuk mempertahankannya, yaitu dengan rajin memotong pangkal tangkai setiap hari beberapa sentimeter dengan potongan miring. Gunanya agar air mudah diserap oleh tanaman.



Semoga cerita wisata saya ini dapat menginspirasi kalian. Lebih jelasnya untuk wisata ini kalian bisa buka link berikut GUMUR atau GUMUR on facebook
Selamat berwisata :)







Komentar

  1. menarik infonya cha,
    aku suka mawar-mawarnya...
    kapan-kapan kesana ahh :)

    BalasHapus
  2. Thanks :)silahkan berkunjung kesana

    BalasHapus

Posting Komentar